Senin, 14 April 2014

" CEPAT MENGAMPUNI "
 
Baca: Mazmur 86

Ya Tuhan, Engkau begitu baik dan murah hati, cepat mengampuni dan penuh kemurahan bagi semua orang yang meminta pertolongan-Mu. (Mazmur 86:5, FAYH)


Suatu ketika, keluarga kami hendak menambah daya listrik di rumah. Seorang saudara merekomendasikan temannya untuk mengurus keperluan tersebut. Setelah uang diberikan pada orang itu, nyatanya urusan tidak kunjung beres. Setelah diselidiki, ternyata orang tersebut bukan petugas resmi PLN. Ketika saya meminta pertanggungjawabannya, hanya janji palsu yang saya dapatkan. Sesaat, saya sempat sakit hati kepada saudara saya dan orang itu, tetapi akhirnya saya dimampukan untuk mengampuni sehingga hubungan kami kembali seperti semula.
Allah kita dikenal suka mengampuni. Alkitab Firman Allah Yang Hidup menuliskan, selain baik dan murah hati, Allah kita cepat mengampuni. Cepat mengampuni artinya tidak membutuhkan waktu lama bagi Allah untuk mengampuni dosa atau kesalahan manusia. Hal ini bukan berarti manusia dapat berbuat dosa seenaknya. Konsekuensi perbuatan dosa tetap harus ditanggung, tetapi bagi mereka yang memerlukan pengampunan, Dia akan memberikan dengan sangat cepat. Bahkan sebelum perbuatan dosa dilakukan, keputusan Allah untuk mengampuni sudah bulat. Kuasa darah Yesus sudah tercurah bagi manusia yang masih berdosa (Rm. 5:8).
Bagi mereka yang telah diampuni, Dia hanya meminta agar pengampunan tersebut diteruskan kepada orang lain. Seberapa cepat? Secepat mungkin! Kecepatan mengampuni bisa jadi tidak sama untuk setiap orang, tetapi kita perlu target yang sama: semakin lama hidup di bumi, semakin cepat mengampuni.—IDO
 
ORANG YANG TELAH DIAMPUNI AKAN TERMOTIVASI
UNTUK MENERUSKAN PENGAMPUNAN KEPADA ORANG LAIN

 

Minggu, 13 April 2014

KARENA TAK PERCAYA
 
 
 
 
Baca: Lukas 4:16-30
Mereka bangkit, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. (Lukas 4:29)


Perintang jalan ada di depan. Seorang polisi perbatasan berdiri dengan tangan terentang saat sebuah mobil mendekat. Ia membungkukkan badan dan memberitahukan bahwa sebuah jembatan telah hancur tak jauh dari situ. Si pengemudi menjawab, “Saya tidak percaya pada Anda. Menurut saya, Anda bukan polisi asli. Silakan minggir, saya harus menghadiri pertemuan bisnis!” Si pengemudi tidak menghiraukan peringatan karena ia tidak percaya bahwa yang berdiri di hadapannya benar-benar seorang polisi. Ya, apa yang kita percayai tentang seseorang dapat memengaruhi keputusan kita.
Suatu kali Yesus mengajar banyak orang di sebuah rumah ibadat di Nazareth tempat Dia dibesarkan. Orang-orang takjub dan heran mendengar pengajaran-Nya. Tetapi, mereka tidak percaya akan ketuhanan Yesus, dan berkata, “Kami tahu siapa Engkau sebenarnya. Engkau adalah anak Yusuf dan Maria orang Galilea. Kami kenal siapa saudara-saudara-Mu. Mungkin Engkau seorang nabi, tetapi Engkau bukan Anak Allah!” Akibatnya, mereka menolak Yesus sebagai Tuhan (ay. 29).
Apakah kita mengakui Yesus sebagai Tuhan atas hidup kita dan hidup dalam firman-Nya? Ketika kita memutuskan untuk percaya pada Yesus Kristus sebagai Tuhan, kita akan menjadi orang yang benar-benar mengasihi-Nya. Kita akan menunjukkan kepercayaan itu dengan menaati ucapan-Nya. Kehidupan-Nya akan memengaruhi kehidupan kita karena Dia ada dalam hati kita. Kehidupan-Nya akan terpancar di dalam dan melalui kehidupan kita dalam setiap segi.—SYS
 
KEYAKINAN KITA HARI INI MEMENGARUHI KEPUTUSAN KITA,
DAN KEPUTUSAN ITU SELANJUTNYA MEWARNAI KEHIDUPAN KITA




Kamis, 10 April 2014

" DIA TELAH MELAKUKANNYA "
 
 
 
Baca: Mazmur 22:23-32

Mereka akan memberitakan keadilan-Nya kepada bangsa yang akan lahir nanti, sebab Ia telah melakukannya. (Mazmur 22:32)


Pernahkah hati kita galau seolah Tuhan meninggalkan kita? Memang berat beban yang harus kita tanggung kala persoalan demi persoalan menimpa, tetapi jalan keluar tak kunjung tiba. Saya pernah mengalaminya. Mazmur 22 ini memberi pelajaran berharga tentang iman. Setelah merenungkannya, saya merasakan beban yang menindih itu akhirnya terangkat.
Bagian kedua Mazmur 22 adalah pernyataan iman si pemazmur bahwa Allah yang ia sembah adalah Allah yang peduli kepada orang yang tertindas. Pemazmur pun bangkit dari kegalauan perasaan diabaikan oleh Tuhan dan mulai mengajak umat untuk memuji Dia. Pemazmur tidak mau tunduk pada perasaan galaunya. Ia tidak mau menyerah dalam kondisi yang terasa berat. Sebaliknya, ia memercayakan diri pada keadilan dan kekuasaan Tuhan dan menganggap Tuhan sudah turun tangan untuk menolongnya.
Bersyukur, memuji Tuhan, dan mengajak umat menyembah Tuhan adalah sebuah tindakan iman. Dengan beriman, pada saat penantian pun kita sudah memercayakan diri pada Tuhan dan sudah melihat dengan kaca mata iman penyelesaian yang Dia lakukan.Pujian kepada Allah selalu mengangkat hati manusia ke tempat yang lebih tinggi. Pujian yang tulus memberikan ruang kepada si pemuji untuk melihat keperkasaan Allah di takhta-Nya yang mahatinggi. Pada saat yang sama, si pemuji pun akan melihat bahwa persoalan dirinya yang begitu membelenggu dan menghimpitnya ternyata jauh lebih kecil dari kebesaran dan kedahsyatan Allah. Oleh karena itu, mari kita memuji Tuhan senantiasa.—ENO
 
TUHAN TELAH, SEDANG, DAN AKAN MENOLONG UMAT-NYA.
MARILAH KITA MEMUJI DAN MERAYAKAN PERTOLONGAN-NYA.

Rabu, 09 April 2014

TITIPAN TUHAN
 
 
 
TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. (Kejadian 2:15)

Bacaan Alkitab Setahun:
1 Samuel 25-27

Seperti apa masa depan dalam imajinasi kita? Di film Elysium, bumi digambarkan sudah begitu buruk dan tercemar hingga sejumlah kelompok elite yang berduit tinggal di stasiun luar angkasa bernama Elysium. Di sana tiap orang dimanjakan dengan fasilitas kesehatan nan canggih, sedangkan orang-orang miskin yang tertinggal di bumi hidup menderita. Konsep yang hampir mirip juga dipaparkan dalam film animasi Wall-E.
Bayangan buruk tentang masa depan bumi seperti itu sangat berlawanan dengan indahnya Taman Eden yang kita baca hari ini. Alkitab mengenalkan kita pada rencana awal Tuhan untuk manusia: Dia menempatkan kita di lokasi yang sesuai untuk hidup kita, dan kita dipanggil untuk berkarya; tak hanya mengusahakan, tapi juga memelihara. Mengusahakan berarti melakukan tugas terbaik sesuai panggilan pribadi kita: kontraktor, guru, pebisnis, dll. Adapun memelihara berarti kita harus bertanggung jawab dalam berusaha, dengan mengingat bumi ini sesungguhnya milik Tuhan.
Begitu banyak prediksi dan penelitian seputar isu lingkungan hidup dan masa depan bumi, yang mungkin hanya kita perhatikan sambil lalu. Hari ini kehancuran lingkungan hidup mungkin terasa hanya fiksi, namun bukan tidak mungkin menjadi nyata jika kita terus tidak peduli. Bagaimanapun, kita adalah bagian dari bumi ini. Nama “Adam” dalam bahasa Ibrani diambil dari kata adama, yang berarti tanah. Mari kita jaga bumi yang sudah Tuhan percayakan pada kita, melalui berbagai tindakan dalam keseharian kita.–-OLV
 
 
DENGAN MENGUSAHAKAN DAN MEMELIHARA BUMI, KITA MEMBANGUN
LINGKUNGAN YANG KONDUSIF BAGI UMAT TUHAN UNTUK BERKARYA

Kamis, 03 April 2014

" SEMUT & BELALANG "





Baca: 2 Tesalonika 3:1-15

Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. (2 Tesalonika 3:10)


Pada musim dingin, si belalang melihat sederet semut membawa biji-bijian ke sarang mereka. Kata belalang, “Maukah kamu berbagi sedikit makanan? Saya belum makan apa pun sejak kemarin; saya hampir mati kelaparan.” Seekor semut menjawab, “Apa yang kamu lakukan sepanjang musim panas sehingga tidak punya makanan pada musim dingin ini?” Kata belalang, “Saya menghabiskan waktu untuk bernyanyi dan beribadah kepada Tuhan; saya sibuk mempersembahkan berbagai kidung kepada-Nya sehingga saya tidak sempat mengumpulkan makanan untuk musim dingin.” Jawab semut. “Kalau begitu, berdoalah terus dan mintalah musim dingin segera pergi.” Rombongan semut itu berlalu meninggalkan si belalang.
Fabel di atas mengingatkan saya pada ajaran Paulus. Ia menegaskan bahwa orang yang tidak mau bekerja tidak boleh makan. Ia tidak berbicara tentang orang yang tidak mampu bekerja, melainkan orang yang malas atau enggan bekerja. Orang semacam itu hanya akan menjadi benalu di tengah keluarga dan masyarakat. Sebaliknya, orang yang rajin bekerja bukan hanya akan dapat mencukupi kebutuhan pribadi, namun kiranya mendapatkan hasil berlebih untuk membantu orang lain yang kekurangan.
Bekerja tidak lain adalah perwujudan dari iman dan ibadah. Berdoa dan bekerja, dengan demikian, tidak sepatutnya dipertentangkan; keduanya perlu berjalan beriringan. Jika orang menghayati hal ini dengan baik, ia akan bekerja dengan penuh sukacita dan rasa syukur, dan hasilnya pun akan optimal.—ENO
ORANG PERCAYA TIDAK AKAN BERMALAS-MALASAN,
TETAPI BEKERJA DENGAN TEKUN SEBAGAI UNGKAPAN IMANNYA

Rabu, 02 April 2014

" TERGERAK BELAS KASIHAN "


Baca: Markus 6:30-44

Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka. (Markus 6:34)

Apa reaksi seseorang ketika melihat orang lain ditimpa masalah atau malapetaka? Ada orang yang tergerak oleh belas kasihan, turut merasakan penderitaan itu, dan melakukan sesuatu untuk meringankan beban orang yang ditimpa masalah. Tetapi, ada juga orang yang bersikap biasa-biasa saja, masa bodoh, tak mau tahu. Tidak semua orang berbelas kasih ketika menyaksikan orang lain tertimpa musibah. Belas kasihanlah yang menggerakkan seseorang untuk keluar dari dirinya, dari kepentingan pribadinya, lalu mengarahkan hati dan pikirannya kepada orang lain. Belas kasihan menggerakkannya untuk bermurah hati.
Yesus, Sang Gembala Agung, tergerak hati-Nya oleh belas kasihan saat melihat orang banyak karena mereka seperti kawanan domba tanpa gembala. Orang-orang dari berbagai kalangan tampak memerlukan bimbingan dan perlindungan. Bertemu dengan orang yang memerlukan bantuan, Yesus tidak berdiam diri. Dan ini yang Dia lakukan: pertama, Dia mengajari mereka banyak hal, lalu memberikan peneguhan dan arahan. Tidak berhenti di situ, Yesus mengajak para murid-Nya untuk memberi mereka makan. Yesus, tidak membiarkan orang-orang menderita kelaparan dan hidup tanpa pengharapan.
Di sekitar kita ada banyak orang menderita. Orang yang sedang bergumul dengan penyakit, orang yang perlu dukungan, empati, dan kehadiran orang lain yang akan memberinya semangat hidup. Melihat kondisi ini, apakah kita tergerak belas kasihan dan melakukan sesuatu untuk memenuhi harapan mereka?–SYS
 
BELAS KASIHAN AKAN MENDORONG KITA UNTUK PEDULI
DAN BERGERAK UNTUK BERMURAH HATI

Selasa, 01 April 2014

" TIDAK TIMBUL LAGI "


Baca: Yohanes 8:2-11

Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi.” (Yohanes 8:11)

Orang tua itu menemui pendeta dan bercerita, “Saat muda saya berselingkuh, meninggalkan istri dan anak saya. Kemudian, anak saya meninggal karena sakit dan istri saya menyusul karena berduka. Saya tidak sempat memohon maaf pada mereka. Akankah Tuhan mengampuni saya?” Pendeta itu mengajaknya ke tepi sungai. Ia disuruh mengambil batu besar dan melemparkannya ke air. Pendeta itu mengambil kerikil dan juga melemparkannya ke air. Pendeta itu bertanya, ”Mana dari kedua batu itu yang akan timbul dari dalam air?” Jawab orang itu, ”Tidak ada.” Pendeta itu berkata, “Betul. Begitu juga dosa kita di hadapan Tuhan, besar atau kecil tidak diperhitungkan lagi karena Tuhan sudah menghapusnya.”Saat ahli Taurat dan orang Farisi membawa kepada-Nya perempuan yang berzinah, Yesus menempelak mereka. Jika mereka tidak berdosa, silakan mereka merajam perempuan itu (ay. 7). Nyatanya tidak ada seorang pun yang mengambil batu, dan satu per satu mereka meninggalkan tempat itu. Adapun Yesus, bukannya menghukum, Dia malah mengulurkan pengampunan, dan memberi perempuan itu kesempatan untuk hidup baru (ay. 11).

Pengampunan Yesus ini setidaknya mengandung dua pesan. Pertama, jangan menghakimi dosa orang lain. Kita juga berbuat dosa; mengapa kita begitu sombong, menganggap dosa orang lain lebih parah daripada dosa kita? Kedua, Tuhan tidak membeda-bedakan antara dosa besar dan dosa kecil. Yang penting bukan besarnya dosa kita, namun apakah kita bersedia memohon ampun kepada-Nya.–MIT
 
JIKA ALLAH SAJA MENYEDIAKAN PENGAMPUNAN,
MENGAPA KITA MALAH MELONTARKAN PENGHAKIMAN?