Selasa, 13 Mei 2014

SERIBU KATA



Baca: Yakobus 3:1-12

Tetapi tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tidak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.(Yakobus 3:8)

Dalam film A Thousand Words, dikisahkan bahwa hidup Jack McCall, sang tokoh utama, ditentukan oleh seribu kata yang ia ucapkan. Ada pohon yang tiba-tiba muncul di halaman rumahnya, dan setiap kata yang ia ucapkan akan merontokkan sehelai daun dari pohon itu. Setiap kata menentukan berapa lama ia akan bertahan hidup. Menarik sekali melihat bagaimana McCall harus berhemat sedemikian rupa dalam berkata-kata, termasuk ketika hendak berbicara dengan istri, rekan bisnis, atau memesan kopi di kedai favoritnya. Meskipun hanya fiktif, kisah Jack McCall mengandung pesan yang sangat baik untuk direnungkan. Alkitab juga mengingatkan betapa berbahayanya lidah manusia; tidak ada seorang pun yang berkuasa menjinakkannya. Lidah digambarkan sebagai sesuatu yang buas, tak terkuasai, dan penuh racun mematikan. Ada banyak orang telah menjadi korban dari lidah yang tidak terkendali. Ada banyak orang tanpa sadar menyebarkan racun yang mematikan lewat perkataan yang terucap secara sembarangan.Firman Tuhan menasihati kita agar lebih berhati-hati dalam berbicara. Allah tidak perlu “menumbuhkan” pohon ajaib supaya kita dapat lebih berhati-hati dalam bertutur kata. Akan tetapi, kita memerlukan pertolongan-Nya supaya dimampukan untuk mengendalikan kebuasan lidah. Dia ingin lidah kita memuji Tuhan dan mengucapkan perkataan berkat, bukan untuk mengutuk. Mari kita bersungguh-sungguh memperhatikan perkataan supaya bisa menjadi saluran berkat bagi sesama.—IDO

SEKALI PERKATAAN TERLONTAR,
IA TIDAK AKAN PERNAH BISA DITARIK KEMBALI

Senin, 12 Mei 2014

TOPENG PENAMPILAN



Baca: Yakobus 2:1-13

Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, kamu berbuat baik.(Yakobus 2:8)


Dunia cenderung mengukur manusia berdasarkan penampilan. Jika seseorang berpenampilan baik, ia dianggap orang baik. Namun, penampilan dapat mengecoh; tidak sedikit orang yang menipu dengan bertopeng penampilan keren. Ya, orang menyebutnya sebagai “penjahat berdasi”. Dengan begitu, tidaklah cukup jika kita menilai seseorang berdasarkan penampilannya saja.
Namun, dalam pelayanan Kristen, kita juga masih banyak yang memakai ukuran duniawi. Ada yang digolongkan sebagai kaum elite, yang mendapatkan prioritas khusus dalam pelayanan. Yakobus mengingatkan orang percaya untuk menjauhi sikap itu. Sikap hati yang membeda-bedakan orang seperti itu dianggap jahat (ay. 4). Sebaliknya, kita mengamalkan iman kristiani dengan mengasihi secara tidak pandang bulu. Bukankah Tuhan sudah memilih orang yang dianggap miskin menurut ukuran duniawi untuk sama-sama menjadi ahli waris Kerajaan yang dijanjikan-Nya (ay. 5)?
Kita mengasihi sesama antara lain dengan berbuat baik kepada mereka (ay. 8). Kita mengasihi tanpa memilah dan memilih, dengan menyadari bahwa setiap orang adalah kepunyaan Allah, sebagaimana diri kita sendiri (ay. 7). Dan, kasih itu sendiri bersumber dari Allah. Karena itu, seharusnya kita sadar seperti Petrus, yang memahami bahwa Allah dalam mengasihi manusia tidak membedakan orang (Kis. 10:34). Mari kita belajar mengasihi tanpa pamrih, dan tidak memandang muka. Jika tidak, kita terhitung orang yang melakukan pelanggaran hukum Tuhan (ay. 9). Tindakan kasih kita hanya seperti topeng.—JAP

 
 
MENYADARI KASIH ITU BUKAN BERASAL DARI DUNIA,
PENERAPANNYA PUN HARUS DENGAN UKURAN TUHAN

Kamis, 08 Mei 2014

ANUGERAH-NYA YANG AJAIB



Baca: Yosua 2:8-24

Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah.(Yosua 2:11)


Di mata manusia mana mungkin pelacur memperoleh keselamatan. Diukur dari standar agama mana pun pelacur sangat tidak layak untuk menerima keselamatan. Namun, jika Tuhan berkenan menyelamatkannya, memangnya kenapa? Keselamatan bukanlah upah dari kebaikan manusia, melainkan pemberian Allah karena kasih dan anugerah-Nya semata. Anugerah yang direspon dengan iman. Oleh iman, manusia menyambut keselamatan itu. Anugerah-Nya memang ajaib.
Hal itu dialami oleh Rahab, seorang pelacur bangsa Kanaan. Ia mengakui bahwa Tuhan Allah Israel adalah “Allah di langit di atas dan di bumi di bawah” (ay. 11). Ini sebuah pernyataan teologis yang mendalam. Bagaimana Rahab memiliki pemahaman iman seperti itu? Ia tidak mendapatkan pendidikan teologia. Ia memperolehnya melalui penyataan Allah, melalui alam karya ciptaan-Nya dan melalui sejarah bangsa Israel yang sampai ke telinga bangsa Kanaan. Iman Rahab juga terlihat dengan jelas dari permintaannya kepada dua mata-mata Israel agar mereka menyelamatkan dirinya dan keluarganya ketika Tuhan menyerahkan Yerikho ke dalam tangan Israel kelak. Ini adalah pernyataan iman yang dinamis, yang percaya bahwa Tuhan akan bertindak sesuai dengan kedaulatan dan kuasa-Nya.
Anugerah Tuhan tidak pandang bulu. Oleh karena itu, kita tidak boleh menghakimi orang yang mau menerima anugerah Tuhan. Kita malah harus bersyukur dan mendorong orang tersebut merespon anugerah itu dengan sikap yang sepadan, yaitu dengan beriman dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadinya.—ENO
 
 
KALAU KITA TIDAK BISA MERAIHNYA DENGAN KEKUATAN SENDIRI,
BERARTI HARUS ADA YANG MEMBERIKANNYA. ITULAH ANUGERAH


Rabu, 07 Mei 2014

KENDALI ALLAH



Baca: Mazmur 52

Tetapi aku ini seperti pohon Zaitun yang menghijau di dalam rumah Allah; aku percaya akan kasih setia Allah untuk seterusnya dan selamanya. (Mazmur 52:10)

Pohon zaitun membutuhkan waktu lama untuk bertumbuh dan dapat mencapai usia ribuan tahun. Pohon ini nyaris tidak dapat binasa karena, jika ditebang, akarnya akan kembali bertunas. Rahasia kesuburan dan ketangguhan pohon ini adalah akarnya yang panjang dapat menembus jauh ke dalam tanah. Pohon ini pun memiliki kemampuan memulihkan diri yang luar biasa. Pada musim kering pohon zaitun menjadi layu, namun tunggulnya masih dapat hidup lagi. Ketika hujan turun, dahan baru akan muncul dari akarnya.
Daud juga memandang situasi hidupnya sebagai bagian dari proses pertumbuhan iman, agar semakin tangguh dan berkualitas. Ia percaya Allah memegang kendali, maka ia yakin dapat bertahan dalam segala kondisi. Termasuk ketika Ahimelek dan para imam serta penduduk Nob dibunuh setelah Saul mendapat laporan dari Doeg bahwa Daud menemui Ahimelek. Dalam keadaan terancam dan geram, Daud menyerahkan pengadilan sepenuhnya pada Allah. Ia yakin akan tetap terpelihara dan bertahan hidup seperti pohon zaitun yang menghijau di rumah Allah.
Segala peristiwa, baik yang membahagiakan maupun yang mengecewakan, adalah bagian dari proses pertumbuhan iman dan pembentukan karakter kita. Kita dapat meneladani sikap Daud yang menyerahkan segala situasi kepada Tuhan. Allah tidak hanya memampukan kita untuk bertahan, namun juga membuat iman kita bertumbuh. Segala sesuatu ada dalam kendali-Nya dan tidak ada satu kekuatan pun yang dapat mengubah rencana-Nya atas hidup kita.—RA


SEGALANYA DALAM KENDALI TUHAN, DIA AKAN MEMBUAT KITA BERTAHAN
DALAM MENJALANI KEHIDUPAN SESUAI DENGAN YANG DIA HARAPKAN

Selasa, 06 Mei 2014

KIRANYA SELALU BEGITU



Baca: Ulangan 5:23-33

Kiranya hati mereka selalu begitu, yakni takut akan Daku dan berpegang pada segala perintah-Ku, supaya baik keadaan mereka dan anak-anak mereka untuk selama-lamanya! (Ulangan 5:29)

Saya pernah mendapatkan kesempatan membaca pesan dari seorang hamba Tuhan kepada anaknya yang beranjak remaja dan sedang berulang tahun. Salah satu harapan dan doanya adalah agar anaknya senantiasa mengasihi Allah dan hidup dalam takut akan Allah. Sebagai orangtua, hamba Tuhan itu menyadari bahwa hanya ketika anaknya mengasihi Allah dan takut akan Dia, masa depannya sungguh terjamin dan ia akan sanggup menghadapi tantangan apa pun dalam hidupnya.
Harapan serupa disampaikan Allah kepada umat-Nya. Bangsa Israel mendengarnya dari Musa ketika Musa menceritakan ulang perjalanan nenek moyang mereka bersama Allah. Ketika itu, ada kegentar an yang dirasakan oleh segenap bangsa Israel sehingga mereka memilih mengutus Musa menghadap Allah, lalu menyampaikan apa yang Allah firmankan. Mereka pun berjanji untuk mendengar dan melakukannya. Kondisi hati bangsa Israel yang takut dan gentar membuat Allah terpikat dan Dia berharap kondisi hati umat pilihan-Nya selalu begitu. Bagi mereka yang memelihara hati yang takut akan Allah, ada jaminan keadaan mereka dan keturunan mereka baik untuk seterusnya.
Takut akan Allah dan berpegang pada segala perintah atau firman-Nya. Harapan yang sama masih Allah gaungkan sampai saat ini. Apakah kita bersedia memenuhi harapan itu? Jika kita mengharapkan keadaan yang baik untuk masa depan kita dan keturunan kita, tidak ada cara lain, mari belajar untuk memelihara hati yang takut akan Dia dan pegang teguh kebenaran firman-Nya.
 
 
ALLAH AKAN MENJAMIN MASA DEPAN MEREKA
YANG TAKUT AKAN ALLAH DAN BERPEGANG PADA FIRMAN-NYA


PILIHAN BERDAMPAK KEKAL



Baca: Ibrani 12:1-17

Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau mempunyai nafsu rendah seperti Esau yang menjual hak kesulungannya demi sepiring makanan.(Ibrani 12:16)

Manakah yang lebih penting, tekun mempelajari Alkitab atau asyik mengutak-atik gadget terbaru? Mana lebih baik, hidup miskin namun jujur dibandingkan mendapat uang berlimpah dari bisnis yang merugikan banyak orang? Apa yang lebih bernilai, membina hubungan kasih dengan pasangan nikah atau menghabiskan waktu untuk chatting dengan lawan jenis di luar nikah? Mungkin cukup mudah menjawab pertanyaan ini. Namun jawaban kita mungkin saja tidak sesuai dengan apa yang sesungguhnya kita lakukan. Kita lebih suka mencari gadget dan aplikasi terbaru, hidup dengan uang berlimpah, dan bercengkerama dengan orang yang bukan pasangan resmi kita.
 
Tuhan meminta kita untuk tidak memilih keinginan nafsu dan mengorbankan kekudusan yang bernilai kekal. Dengan mengambil contoh Esau, penulis kitab Ibrani ingin mengingatkan akan pilihan yang kita ambil. Esau memilih untuk menukarkan hak kesulungan dengan sepiring makanan, sebuah penukaran yang sungguh tidak seimbang. Dalam konteks pembahasan kitab Ibrani, hak kesulungan merupakan lambang kekekalan, anugerah yang Tuhan berikan. Sebaliknya, makanan adalah simbol kenikmatan sementara, hawa nafsu, dan dosa. Pilihan salah Esau ternyata berakibat penyesalan yang tidak mungkin lagi bisa dikoreksi (ayat 17).
 
Marilah bijak memilih. Utamakan kekekalan, yaitu dengan menjaga kekudusan dan hidup dengan pengendalian diri. Ketika kita menginginkan sesuatu, pikirkan dahulu dampak pilihan itu terhadap kekekalan. Ambil dan lakukan apa yang mendatangkan berkat dan yang berkenan kepada Tuhan kita.–-HEM
 
TIDAK PERLU TAKUT MENGHADAPI PENDERITAAN
KETIKA KITA SUDAH MEMILIH PERKARA YANG BAIK DAN BENAR

Kamis, 01 Mei 2014

AWAL PEMBELAJARAN



Baca: Amsal 1:1-7

Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan
didikan. (Amsal 1:7)


Suatu kali anak bungsu saya bertanya mengapa toko anak Tuhan tutup pada hari Minggu. Syukurlah, kakak nya sudah bisa menjelaskan, “Kita berhenti melakukan aktivitas sehari-hari, supaya bisa beribadah. Kan itu perintah Tuhan.” Ha, saya tak perlu menjelaskan lagi. Lalu, sang kakak bertanya tentang mitos budaya di Jogja. “Ma, apa betul kita tidak boleh pakai baju hijau kalau pergi ke Pantai Selatan? Memangnya kenapa?” Ha, sekarang saya tak mau menghindar. Sebab, saya ingin mereka mengetahui kebenaran.

Sebagai orangtua, kita perlu me mastikan cara pandang anak kita terhadap segala sesuatu. Apakah mereka sudah memiliki cara pandang yang benar? Cara pandang siapakah yang mereka ikuti? Apakah cara pandang para ilmuwan, cendekiawan, atau cara pandang Tuhan? Mari cermati nasihat Firman hari ini: Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan. Apa artinya ini? Cara pandang anak kita hendaknya selaras dengan cara pandang Allah. Bagaimana Allah memandang sesuatu, demikian pula anak kita harus melihatnya. Cara pandang Allah itu akan mengarahkan cara anak kita menanggapi segala sesuatu!

Bila anak-anak sudah memiliki dasar ini, kita tak perlu lagi khawatir bila mereka memasuki belantara informasi. Mereka boleh belajar dan menyerap apa saja. Biarlah mereka menyaringnya bersama Tuhan. Mereka akan tahu mana yang boleh dilakukan, mana yang tidak. Mana yang perlu disimpan, mana yang lebih baik dibuang. Mana yang bisa dipercaya, mana yang tidak. Inilah pembelajaran.—AW
 
DAMPINGI ANAK-ANAK KITA MENGENAL ALLAH DARI DEKAT,
HINGGA DI HATI MEREKA CARA PANDANG ALLAH PUN MELEKAT