Minggu, 15 Juni 2014

Dalam Segala Hal



Baca: 1 Tesalonika 5:12-22

Ucapkanlah syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.(1 Tesalonika 5:18)


Bacaan Alkitab Setahun:
Ayub 5-8


Mudah untuk mengucap syukur saat keadaan baik, ketika kehidup an berjalan sesuai dengan harapan. Namun, bagaimana saat kita sedang dalam pergumulan, dalam penderitaan, atau ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita harapkan? Adakah kita tetap bersyukur.
Firman Tuhan mendorong kita untuk mengucap syukur dalam segala hal. Mengapa? Karena itu adalah kehendak Allah. Berarti, hal itu sesuatu yang baik di mata-Nya, menyenangkan hati-Nya, dan mempermuliakan nama-Nya. Ucapan syukur dalam segala hal berfokus pada Allah. Seperti dikatakan Andrew Murray, “Ucapan syukur akan menarik hati kita kepada Allah dan menjaga kita melekat pada-Nya.”
Mengucap syukur dalam keadaan baik, saat berkelimpahan dan hidup berjalan lancar adalah pengakuan kita bahwa segala sesuatu bersumber dari-Nya, oleh karena itulah kita berterima kasih pada-Nya. Mengucap syukur dalam keadaan berat, kekurangan, di tengah pergumulan adalah wujud iman dan ketaatan kita pada-Nya. Iman bahwa segala sesuatu terjadi dengan seizin-Nya dan pada akhirnya akan mendatangkan kebaikan bagi kita, walau saat ini kita belum memahaminya. Iman pada kasih, kuasa, hikmat, dan kedaulatan-Nya meskipun sepertinya kita sedang tidak melihatnya. Itu juga wujud ketaatan kita menerima kehendak-Nya walaupun keadaan tidak seperti yang kita harapkan. Kita percaya bahwa kehendak-Nya pasti lebih baik daripada kehendak kita. Untuk itulah kita berterima kasih pada-Nya. Ketika kita mengucap syukur dalam segala hal, kita mempermuliakan Dia.—RN

SEMAKIN KITA MENGENAL DAN MEMERCAYAI ALLAH,
KITA AKAN SEMAKIN BISA MENGUCAP SYUKUR DALAM SEGALA HAL.

Selasa, 10 Juni 2014

TAK TERHAMBAT KETERBATASAN




Baca: Lukas 21:1-44

Mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkah yang dimilikinya.(Lukas 21:4)


Dalam liputan sebuah stasiun televisi, ditampilkan kehidupan keluarga pasangan difabel yang tinggal di Pati, Jawa Tengah. Meskipun mengalami keterbatasan secara fisik, mereka tidak memanfaatkan hal itu untuk meminta belas kasih orang lain dengan mengemis. Keduanya bekerja untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga dan pendidikan dua anak mereka. Bukan hanya itu, mereka mengangkat dua anak asuh.
Berbagi mungkin bukan masalah besar bagi yang berkelimpahan. Tetapi, bagaimana jika pemberian itu bersumber dari keterbatasan? Bukankah nilainya lebih berharga dari yang pertama? Yesus pun mengakui hal ini. Dua peser persembahan janda miskin, di mata Yesus, merupakan persembahan yang paling berharga. Jumlahnya memang tidak besar, tetapi, bagi sang janda, jumlah itu mewakili seluruh nafkah. Itulah harta berharga kepunyaannya. Perlu kerelaan hati untuk menyerahkannya.
Tuhan tidak melihat persembahan yang kita berikan berdasarkan ukuran, pengaruh, atau keberhasilannya. Tuhan lebih melihat kadar pengabdian, pengurbanan, iman, dan ketulusan pribadi yang menyertainya. Keterbatasan fisik atau finansial, dengan demikian, bukan alasan untuk membatasi persembahan kita. Kita bisa memberikan waktu, tenaga, dana, kemampuan, dan apa pun yang kita miliki sebagai persembahan yang kudus dan berkenan bagi-Nya. Seperti dikatakan Paulus, kita mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup sebagai ungkapan syukur atas kemurahan-Nya (Rm. 12:1).—EBL


 
PEMBERIAN ITU BUKAN BERDASARKAN KELIMPAHAN,
TETAPI TERUTAMA BERDASARKAN KERELAAN.

Kamis, 05 Juni 2014

ALLAH MAHAHADIR




Baca: Mazmur 139:7-12

Seorang ibu memiliki dua orang putri yang tinggal di kota yang berbeda. Suatu ketika keduanya secara bersamaan mengalami masalah dalam pekerjaan masing-masing. Sang ibu berencana berkunjung dan menghibur mereka. Tetapi, keinginannya teralang oleh keterbatasan manusia. Ia tidak bisa berada di dua tempat pada waktu bersamaan, dan ia hanya bisa berkunjung secara bergiliran.
Tidak demikian dengan Tuhan Allah yang kita sembah. Allah itu omnipresent, Allah yang Mahahadir, senantiasa ada di mana saja. Dia mengetahui kisah demi kisah yang kita alami di bumi. Dalam segala situasi, Allah tahu karena Dia hadir; Dia mengetahui secara detail apa pun yang terjadi pada kita. Meskipun ada jutaan manusia di bumi yang bersama-sama menyerukan nama Tuhan, Dia mendengarkan seruan mereka masing-masing. Saat air mata kesesakan mengalir, Tuhan merangkul kita dan memberikan damai sejahtera dari surga. Ketika kita mendapatkan promosi, Dia juga hadir, turut bersukacita bersama dengan kita.
Tuhan ada bersama mereka yang di Australia. Tuhan ada bersama kita di Indonesia. Tuhan juga ada bersama mereka yang di Palestina. Kemampuan Tuhan jauh melampaui keterbatasan manusia. Karena Tuhan adalah Allah Pencipta yang sempurna. Allah yang dahsyat. Allah yang penuh kuasa dalam segala perbuatan-Nya. Allah yang ada bagi setiap umat ciptaan-Nya. Tidak ada kuasa lain yang dapat menandingi kuasa-Nya. Berserulah hanya pada Tuhan, agar kita mengalami kehadiran dan kuasa-Nya.—SS


KEHADIRAN ALLAH TIDAK TERBATASI OLEH KONDISI KEHIDUPAN UMAT-NYA;
DIA MENYERTAI KITA SEMUA.

Selasa, 03 Juni 2014

PERNAH HIDUP BENAR



Baca: 2 Tawarikh 24:1-27

Yoas melakukan apa yang benar di mata TUHAN selama hidup imam Yoyada.(2 Tawarikh 24:2)

Saya suka mencermati kesaksian para pelayat tentang kehidupan orang yang terbujur kaku di rumah duka. Selain ingin mendengar hal baik tentang mendiang, saya ingin tahu apakah ia hidup benar dalam Kristus sampai akhir hayat. Sedih sekali jika mendapati ada orang yang pernah hidup benar, tetapi dalam perjalanan hidupnya berbalik dari Tuhan dan hidup sekehendak hatinya. Bagi saya, panggilan untuk hidup benar berlaku seumur hidup, bukan hanya pada masa awal kekristenan kita.
Raja Yoas pernah hidup dengan benar di hadapan Allah. Selama imam Yoyada melayani, kurban bakaran teratur dipersembahkan di rumah Tuhan (ay. 14), bukan kepada berhala. Sayangnya, hal yang sangat menyukakan hati Allah ini hanya berlangsung selama hidup imam Yoyada. Begitu imam Yoyada meninggal, Yoas memilih mendengarkan nasihat para pemimpin Yehuda daripada meneruskan hidup benar di hadapa
n Allah. Mereka meninggalkan Allah untuk beribadah kepada berhala. Teguran Allah melalui Zakharia, anak imam Yoyada, tidak mempan, bahkan Zakharia dibunuh. Akhirnya, Yoas sendiri mati di tangan pegawainya.
Kondisi seperti Raja Yoas mungkin juga kita alami jika kita tidak waspada. Sekali hidup benar bukan berarti selamanya pasti hidup benar. Diperlukan kemauan, tekad, dan konsistensi untuk menjalani hidup benar dalam anugerah Tuhan. Kelak akhir hidup kita akan menunjukkan apakah kita tetap menjalani hidup benar atau hanya menjadi orang Kristen yang pernah hidup benar.—IDO
 
SEBAGAI ORANG YANG DIBENARKAN MELALUI PENGURBANAN KRISTUS,
HENDAKNYA KITA TERUS BELAJAR HIDUP BENAR DI HADAPAN ALLAH

Kamis, 29 Mei 2014

HAI, ANAK-KU




Kata Yesus kepada mereka, “Hai anak-anak, apakah kamu punya ikan?” Jawab mereka, “Tidak.” (Yohanes 21:5)



Pada Juni 2013, kelab basket San Antonio Spurs nyaris menjadi juara NBA. Sayang sekali, di partai final mereka dikalahkan oleh Miami Heat dengan angka 95-88. Bagaimana tanggapan sang pelatih, Gregg Popovich, saat mereka di kamar ganti? “Saya hanya menyatakan bahwa saya mencintai mereka,” kata Popovich. “Pencapaian mereka tahun ini melampaui harapan siapa pun. Mereka menunjukkan keteguhan mental dan kecakapan bermain secara bagus untuk menc
apai final. Saya hanya bisa berkata: saya bangga dan mencintai mereka.”

Bagaimana Tuhan Yesus menyikapi kegagalan murid-murid-Nya? Hampir semua murid meninggalkan-Nya saat ia bergumul dalam sengsara penyaliban. Ketika Dia kemudian bangkit dari antara orang mati, ada murid yang meragukan kejadian itu. Apakah Dia geram pada mereka? Mereka pantas ditegur dengan keras. Namun, dengarlah bagaimana Dia menyapa mereka, bahkan ketika mereka belum mengenali-Nya: “Hai anak-anak.” Lembut, penuh rasa sayang. Dalam bayangan saya, Yesus mengucapkannya sambil tersenyum. Selain panggilan untuk anak kandung, kata “anak” juga dapat ditujukan kepada siapa saja untuk menyatakan hubungan kasih yang istimewa. Ya, Dia tidak menghardik mereka. Sebaliknya, Dia memilih untuk meneguhkan kasih-Nya kepada mereka dan memberi mereka kesempatan baru.

Ketika kita gagal, Dia tidak geram dan menghardik kita dengan keras. Sebaliknya, Dia menyapa kita dengan lembut dan penuh kasih, “Hai, anak-Ku.” Sungguh membangkitkan penghibur an, bukan?—ARS


DI DALAM KRISTUS, ALLAH TIDAK MENGHUKUM KITA,
TETAPI MEMELUK KITA DENGAN PENUH KASIH SEBAGAI ANAK-NYA.

Kamis, 22 Mei 2014

TIDAK KEKURANGAN



Baca: Filipi 4:10-20

Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. (Filipi 4:19)

Saat memutuskan bekerja di bidang yang saya geluti sekarang, saya merasa kurang nyaman dan agak khawatir. Dengan penghasilan relatif rendah, saya harus pandai-pandai dalam mengatur keuangan, agar jangan sampai terjerat utang. Di sini saya belajar untuk mencukupkan diri. Syukurlah, Tuhan senantiasa mencukupi dan memelihara saya; saya tidak pernah kekurangan. Dengan cara yang ajaib, Dia menyediakan segala sesuatu yang saya perlukan.
Ketika bertugas melayani jemaat di Filipi, Rasul Paulus menghadapi kenyataan hidup yang tidak mudah. Namun, ia tidak lalu apatis, tetapi bersyukur kepada Tuhan dan mencukupkan diri dengan apa yang ada (ay. 11). Ia yakin segala perkara dapat ia tanggung di dalam Dia yang memberinya kekuatan (ay. 13). Tuhan tidak tinggal diam, tetapi turut menanggung segala sesuatu yang menjadi kebutuhan umat-Nya.
Barangkali Anda juga menghadapi kenyataan hidup yang tidak sesuai dengan harapan. Rasa tidak nyaman, ketakutan, dan kekhawatiran menghampiri, membuat kita bertanya-tanya, dapatkah kita melewati keadaan ini dengan baik. Sebagian orang bahkan mengalami stres dan depresi karenanya.
Untuk menghadapi pergumulan itu, Tuhan menawarkan cara terbaik dalam menjalani hidup ini: percaya akan pemeliharaan-Nya. Percaya bahwa Dia sanggup menanggung segala kebutuhan kita. Dia akan memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (ay. 19). Dengan hidup di dalam Dia, kita tidak akan mengalami kekurangan.—WB
 
 
KEADAAN MUNGKIN TIDAK BERSAHABAT,
NAMUN PEMELIHARAAN TUHAN MENOPANG KITA DENGAN KUAT

Senin, 19 Mei 2014

TAMENG KEHIDUPAN



Baca: Yohanes 10:1-18

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Akulah pintu bagi domba-domba itu... siapa saja yang masuk melalui Aku, ia akan diselamatkan dan ia akan masuk dan keluar serta menemukan padang rumput. (Yohanes 10:7, 9)


Pada 20 Mei 2013, tornado dahsyat menerjang Oklahoma, Amerika Serikat. Angin kencang 300 km/jam itu meluluhlantakkan semua daerah yang diterjangnya. Ada guru di SD Plaza Towers yang menjadi “tameng hidup” bagi murid-muridnya. Bagaimana tidak? Ia berbaring di atas tubuh enam murid di kamar mandi sekolah, agar anak-anak itu tak tercabut oleh pusaran tornado! Akibatnya, ia mengalami luka cukup serius di sekujur tubuh. Ya, ia bukan hanya guru yang mentransfer ilmu, tetapi juga mentransfer hidup bagi murid-muridnya. Itulah ciri gembala yang sesungguhnya—menurut Yesus. Gembala upahan akan lari saat ada bahaya. Sebaliknya, setiap petang gembala sejati membawa seluruh dombanya masuk ke kandang, lalu ia akan tidur di pintu kandang. Ia tidur di situ agar bisa cepat tahu bila ada binatang buas yang hendak memasuki kandang untuk menerkam domba-dombanya. Yesus adalah Gembala sejati manusia. Dia berkata: “Akulah pintu ke domba-domba itu”. Di bukit Kalvari, Dia memasang badan-Nya menjadi “tameng hidup” yang menyelamatkan domba-domba-Nya dari maut. Dan, salib Kalvari menjadi pintu menuju surga—tem pat teraman dari semua badai keganasan dunia yang sedang menuju kehancuran. Yesus bukan hanya mengajarkan jalan keselamatan, Dia sendirilah jalan keselamatan itu. Dia mengurbankan hidup-Nya demi memperdamaikan manusia dengan Allah, agar setiap orang yang percaya tidak binasa melainkan beroleh hidup kekal. Sudahkah Anda memercayai-Nya dan menyambut keselamatan-Nya?—SST
 
 
SIKAP DAN KEPUTUSAN KITA TERHADAP YESUS SAAT INI
MENENTUKAN NASIB KITA DALAM KEKEKALAN